KITA ADA BUKAN KARENA KEBETULAN
Bacaan: Mazmur 139 : 1-18
Nats: Yesaya 44:2a
Kita ada bukan karena kebetulan. Kelahiran Kita bukanlah
suatu kesalahan atau kesialan, dan kehidupan Kita bukanlah
yang tidak diharapkan alam. Orangtua Kita mungkin tidak
merencanakan keberadaan Kita, tetapi Allah merencanakannya.
Dia tidak terkejut sama sekali dengan kelahiran Kita. Sesungguhnya,
Dia mengharapkannya Jauh sebelum Kita ada dalam benak orang-tua
Kita, Kita sudah ada dalam pikiran Allah. Dia memikirkan
Kita terlebih dulu. Bukan karena nasib, bukan karena kesempatan,
bukan karena keberuntungan, juga bukan karena kebetulan,
Kita bernafas saat ini. Kita hidup karena Allah ingin menciptakan
Kita! Alkitab berkata, “Tuhan akan rnenggenapi tujuan-Nya
bagiku.” (Maz 138:8a)
Allah merancang setiap bagian tubuh Kita. Dia dengan terencana
memilih ras Kita, warna kulit Kita, rambut Kita, dan setiap
karakteristik Iainnya. Dia merancang dan membuat tubuh Kita
seperti yang Dia inginkan. Dia juga menentukan talenta¬talenta
alami yang akan Kita miliki dan keunikan dan kepribadian
Kita. Alkitab berkata, “Engkau mengenalku lahir dan
batin, engkau mengenal setiap tulang dalam tubuhku; Engkau
mengetahui persis bagaimana aku dijadikan, sedikit demi
sedikit, bagaimana aku dipahat dan kehampaan menjadi sesuatu.”
(Maz 139:15)
Karena Allah membuat Kita untuk suatu alasan, Dia juga
memutuskan kapan Kita akan dilahirkan dan berapa lama Añda
akar hidup. Dia terlebih dulu sudah merencanakan han-han
hidup Kita, memilih waktu yang tepat untuk kelahiran dan
kematian Kita. Alkitab berfirman, “Sebelum aku lahir,
Engkau telah melihat aku. Sebelum aku mulai bernafas, Engkau
telah merencanakan setiap han hidupku. Setiap haniku tercantum
dalam kitab itu.” (Maz 139:16)
Allah juga merencanakan di mana Kita akan dilahirkan dan
di mana Kita akan hidup untuk tujuan-Nya. Ras dan kebangsaan
Kita bukan suatu kebetulan. Allah tidak membiarkan satu
bagian pun terjadi secara untung-untungan. Dia merencanakan
semuanya untuk tujuan-Nya. Alkitab berkata, “Dan satu
orang saja Ia telah men] adikan semua bangsa... dan Ia telah
menentukan musim-musim bagi mereka dan batas-batas kediaman
mereka.” (Kis 17:26)
Tidak ada satu hal pun dalam hidup Kita yang terjadi dengan
sendirinya. Semuanya untuk suatu tujuan. Yang paling mengagumkan,
Allah menentukan bagaimana Kita akan dilahirkan. Tanpa memKitang
kondisi kelahiran Kita atau siapa orang-tua Kita, Allah
memiliki rencana ketika menciptakan Kita. Tidak peduli apakah
orang-tua Kita baik, buruk, atau acuh tak acuh. Allah mengetahui
bahwa mereka berdua benar-benar memiliki sifat-sifat genetik
yang tepat untuk menciptakan “Kita” yang sudah
ada dalam pikiran-pikiran-Nya.
Mereka memiliki DNA yang Allah inginkan untuk menjadikan
Kita. Walaupun ada orang-tua yang tidak sah, tidak ada anak-anak
yang tidak sah. Banyak anak tidak direncanakan oleh orang-tua
mereka, tetapi mereka bukanlah tidak direncanakan oleh Allah.
Allah memperhitungkan juga kesalahan manusia, dan bahkan
dosa. Allah tidak pernah membuat kesalahan. Dia memiliki
alasan untuk segala sesuatu yang Dia ciptakan. Setiap tumbuhan
dan binatang direncanakan oleh Allah, dan setiap orang dirancang
dengan suatu tujuan di dalam pikiran. Motivasi Allah dalarn
menciptakan Kita adalah kasih¬Nya. Alkitab mengatakan,
“Jauh sebelum dunia dijadikan Allah telah merancang
kita di dalam pikiran-Nya, menetapkan kita sebagai pusat
kasih-Nya.” (Efesus 1:4a)
Allah memikirkan Kita bahkan sebelum Dia menjadikan dunia.
Sebetulnya, inilah sebabnya Dia menciptakan dunia. Allah
merancang lingkungan planet ini hanya agar kita bisa hidup
di dalamnya. Kita adalah pusat kasih-Nya dan merupakan yang
paling berharga dan semua ciptaan-Nya. Alkitab berkata,
“Atas kehendak¬Nya sendiri Ia telah menjadikan
kita oleh firman kebenaran, supaya kita pada tingkat yang
tertentu menjadi anak sulung di antara semua ciptaan¬Nya.”
(Yakobus 1:18) Betapa Allah begitu mengasihi dan menghargai
Kita!
Allah tidak serampangan; Dia merencanakan semuanya dengan
ketepatan yang luar biasa. Semakin hebat ahli-ahli fisika,
biologi, dan ilmuwan lainnya mempelajari alam semesta, semakin
balk kita memahami betapa alam semesta secara unik cocok
bagi keberadaan kita, dirancang dan dibuat dengan kekhususan¬
kekhususan yang tepat yang memungkinkan manusia hidup.
Alkitab mengatakan hal yang sama ribuan tahun sebelumnya:
“Dialah Allah —yang membentuk bumi...Ia menciptakannya
bukan supaya kosong, tetapi Ia membentuknya untuk didiami.”
(Yesaya 45:18)
Mengapa Allah melakukan semuanya ini? Mengapa Dia bersusah-payah
menciptakan alam semesta bagi kita? Karena Dia adalah Allah
yang mengasihi. Jenis kasih mi sulit untuk dipahami, tetapi
benar-benan dapat dipercayai. Kita diciptakan sebagai sasaran
khusus dan kasih Allah! Allah menjadikan Kita supaya Dia
dapat mengasihi Kita. Inilah sebuah kebenaran untuk dijadikan
lKitasan kehidupan Kita. Alkitab berkata, “Allah adalah
kasih.” (1 Yoh 4:8) Ayat ini tidak berkata Allah memiliki
kasih. Dia adalah kasih! Kasih adalah hakikat karakter Allah.
Ada kasih yang sempurna dalam persekutuan Trinitas, jadi
Allah tidak perlu menciptakan Kita. Dia tidaklah kesepian.
Tetapi Dia ingin menciptakan Kita untuk menyatakan kasih-Nya.
Allah benfinman, “Dengankanlah Aku... hai orang-orang
yang Kudukung sejak dan kandungan, hai orang-orang yang
Kujunjung sejak dan rahim. Sampai masa tuamu Aku tetap Dia
dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku
telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau
memikul kamu dan men yelamatkan kamu.” (Yesaya 46:3-4)
Seandainya tidak ada Allah, kita semua tentu ada karena
“kebetulan,” hasil dan kemungkinan acak astronomis
di alam semesta. Karena kehidupan tentu tidak akan memiliki
tujuan atau makna atau arti penting. Tidak akan ada benar
atau salah, dan tidak ada harapan di balik tahun-tahun singkat
Kita di muka bumi. Tetapi ada Allah yang menjadikan Kita
untuk suatu alasan, dan kehidupan Kita memiliki makna yang
luar biasa! Bahwa kita dapat menemukan makna dan tujuan
tersebut hanya apabila kita menjadikan Allah pokok acuan
kehidupan kita. Alkitab versi Message memparafrasekan Roma
12:3 dengan, “Satu-satunya cara yang tepat untuk memahami
diri kita adalah melalui keberaduan Allah dan apa yang Dia
kerjakan bagi kita.” <ydp>
sumber: The Purpose Driven Life, Rick Warren, Bab: 2, Hal:
23 |